Erland Arfandi Rukka

Is The Best

Krakatau Steel vs Gunung Krakatau

(Oleh : Erland Altis Wiratama Rukka)……..

Krakatau adalah nama sebuah gunung yang pernah meletus dengan sangat dahsyat pada tanggal 26-27 Agustus 1883 yang letaknya berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan pulau Sumatera.  Dalam beberapa hari ini kita ering mendengar informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahwa Gunung Krakatau sedang dalam status waspada. Waspada karena dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, dapat meningkat level siaga dan selanjutnya dapat meletus.

Nama Krakatau juga sangat identik dengan sebuah industri strategi yang memproduksi baja dan terletak di kota Cilegon Provinsi Banten  yakni PT. (Persero) Krakatau Steel, Tbk, yang hanya dalam hitungan hari kedepan akan segera melakukan penjualan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Sedari awal dalam IPO ini pun banyak kalangan seperti praktisi keuangan, pengamat ekonomi serta pengamat pasar modal yang memberikan “warning’ agar pelaksanaan IPO PT. (Persero) Krakatau Steel Tbk., dibatalkan, mengingat akan berdampak sangat signifikasi dibalik semua rencana tersebut serat akan sangat merugikan negara.

Dari satu nama yang ada, namun keduanya memiliki kesamaan yang terkandung didalamnya, namun berbeda perspektif.  Gunung Krakatau dalam beberapa hari ini masih dalam pengawasan ketat dari PVBMG Jawa Barat & Banten karena aktivitasnya yang semakin meningkat, sedangkan Krakatau Steel dalam status waiting list menunggu IPO yang akan digelar pada tanggal 10 Nopember 2010 (bertepatan dengan Hari Pahlawan).

Terdapat beberapa kemungkinan, jika Gunung Krakatau meletus maka akan membawa dampak yang sangat signifikan terutama terhadap penduduk yang tinggal di pesisir pantai yang terletak di Provinsi Banten dan Provinsi Lampung. Sedangkan untuk IPO dari PT. (Persero) Krakatau Steel Tbk., Apakah terdapat indikasi manipulasi untuk kepentingan pribadi maupun kelompok menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014,  jika semua terindikasi kearah tersebut, maka sudah dipastikan bahwa IPO Krakatau Steel akan meledak lebih besar lagi dari pada Kasus Bank Century yang sampai sekarang masih menggantung…!!!

Sejarah Krakatau Steel

Sejarah berdirinya PT. Krakatau Steel telah melalui jalan panjang nan berliku, diawal tahun 1962 yakni pada masa Orde Lama Pemerintahan Presiden Soekarno. Namun seiring dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1970 tentang Penyertaan Modal Negara untuk pendirian PT. (Persero) Krakatu Steel, maka pada tahun tersebut PT. Krakatau Steel resmi menjadi industri strategis

Pembangunan industri strategis ini diawali dengan memanfaatkan sisa-sisa dari peralatan Proyek Kawat Baja, Pabrik Baja Tulangan dan Pabrik Baja Profil.  Selanjutnya penggunaan keseluruhan pabrik dimulai pada tahun 1977 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Pejualan Saham Krakatau

Penjualan perdana atau Initial Public Offering (IPO)  PT. (Persero) Krakatau Steel tercatat akan melepas sebanyak 3.155.000.000 lembar saham dengan harga nominal per saham hanya Rp. 850,- dengan asumsi perolehan dana setelah IPO sebesar Rp. 2,7 triliun.

Penjualan ini tentunya sangat kita sesalkan, mengingat Krakatau Steel adalah merupakan industri strategis yang sangat menguntungkan. Pemerintah harusnya bisa menjaga Krakatau Steel dengan sebaik-baiknya dan melindungi industri strategis kita.  Pemerintah seharusnya mengambil langkah bijak untuk kepentingan bangsa yang lebih besar serta berpikir rasional untuk tidak menjual PT. (Persero) Krakatau Steel.  Jikalau harus menjual, maka langkah yang terbaik adalah dengan menjual kepada seluruh rakyat dengan range harga yang wajar dan jauh dari unsur politik.

Namun pada kenyataannya bahwa saham-saham yang dijual dan atau ditawarkan tersebut lebih banyak dikuasai oleh para pemilik modal besar (dari kalangan tertentu), para pejabat dan para politikus.  Dari sini bisa kita melihat ada motivasi apa Pemerintah begitu bersemangat untuk menjual PT. (Persero) Krakatau Steel?

Perlu diketahui bahwa industri strategis seperti pabrik baja adalah sebuah industri yang harus selalu dijaga dan wajib diproteksi oleh negara dan pemerintah.  Karena semakin hari harga atau nilai sebuah industri baja nilainya akan terus meningkat dan jangan sampai jatuh ke tangan investor asing.  Jika pemerintah berkeinginan hanya ingin mencari dana yang jumlahnya USD 250 juta dan kemudian menjual Krakatau Steel, itu adalah tindakan yang sangat ceroboh dan akan sangat merugikan negara. Lebih baik Menteri BUMN Mustafa Abbubakar mundur saja sebagai Menteri BUMN, jika untuk mencari dana USD 250 juta saja tidak sanggup untuk melakukannya.

Bangsa kita sudah menjadi bangsa binatang, hanya karena mencari uang recehan untuk makan, bangsa kita melacurkan diri demi mendapatkan uang sedikit untuk makan.  Semuanya dijual termasuk harga diri bangsa.  Sebelum merdeka, kita ini termasuk bangsa kuli yang hanya dinilai dengan uang se-benggol.  Sama dengan UMR (Upah Minimun Regional) sekarang, kita semua adalah kuli dari bangsa kuli. Sekarang setelah merdeka kita sudah bisa menguasai diri sendiri, tetap sekarang apa yang terjadi? Bangsa kita menjual semua harta kita dan ini yang terjadi dan pasti akan terus terjadi, sehingga kedepan kita akan menjadi kuli lagi.

Presiden Soekarno pernah berkata kepada salah seorang ajudannya bahwa dengan membangun Krakatau Steel seluruh nekolim makin gemetar dengan berdirinya Krakatau Steel, karena dengan adanya pabrik baja tersebut kita bisa membangun Indonesia lebih besar lagi. Ibaratnya Krakatau Steel itu adalah The Mother of Factory (induknya pabrik).  Menurut Presiden Soekarno bahwa untuk membangun bangsa yang besar ada3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi yakni : industri listrik, industri baja/metalurgi dan sumber daya manusia.  Tapi kenapa Kementerian BUMN tetap ngotot untuk menjual dan menghancurkan Krakatau Steel? Padahal industri pengolahan baja adalah industri strategis dan merupakan tulang punggung dari segala industri yang ada.

Sejak jamanPresiden Soeharto semua dijual.  Dalam sebuah pertemuan di Wina (Austria), Indonesia sudah terintimidasi dan sudah di kapling-kapling dan dijual termasuk yang dihancurkan dulu adalah Krakatau Steel.  Indonesia bukannya tanpa strategi atau konsep, tapi bangsa Indonesia ini strateginya sudah diatur, sudah dijual dan sudah dimiliki oleh kepentingan lain yang non Indonesia.  Sekarang kita seperti bangsa yang sudah kehilangan kemerdekaan, kita sudah melacurkan diri karena tidak mempunyai pemimpin negeri yang tidak mempunyai visi, tapi kita bisanya cuma mencari uang recehan dengan menjual harga diri bangsa dan melacurkan diri.

Kita tahu bahwa Presiden Soekarno memiliki cara dan pola pemikiran yang sama dengan Nehru dari India serta dengan para pemimpin-pemimpin negeri China yang secara konsisten untuk mengembangkan industri baja dan industri-industri mesin, karena dengan adanya industri baja dan mesin tersebut maka secara otomatis mereka bisa membuat produk mesin-mesin yang lainnya sehingga akhirnya bisa menjadi bangsa yang kuat secara teknologi dan industri.

Kira-kira apakah Indonesia tidak memiliki visi untuk membangun indonesia negara industri yang kuat?

Sekarang ini Indonesia selalu berpikiran untuk menyerahkannya kepada mekanisme pasar.  Sepertinya hal itu adalah hal yang sangat sulit untuk diterjemahkan.  Namun jika itu terjadi maka pasar akan lebih memilih cara yang paling gampang, yaitu memproduksi barang-barang yang hanya dibutuhkan oleh konsumen.  Kita bisa membayangkan, misalnya Indonesia memproduksi sanggup memproduksi mobil sebanyak 600.000 unit per tahun untuk penjualannya.  Bandingkan dengan Korea dulu, disaat memulai membangun industri mobil.  Hanya dengan modal produksi mobil yang jumlahnya cuma 150.000 unit yang difokuskan untuk pangsa pasar dalam negeri, dimana dari modal pasar dalam negeri itulah sehingga mereka dapat membangun industri mobil yang tangguh dan sanggup untuk bisa ekspor kemana-mana.

Sedangkan Indonesia sama sekali tidak memiliki visi.  Meskipun sanggup memproduksi sebanyak 600.000 unit mobil, namun semua itu cuma assembling dan hanya untuk jadi konsumen.  Disinilah kesalahan para pemikir ekonomi dan pejabat yang memiliki pola dan cara berpikir b bahwa mekanisme pasar adalah agama untuk  segala-segalanya, sehingga akhirnya akan membuat kita sebagai bangsa yang konsumtif.

Keinginan pemerintah untuk menjual Krakatau Steel, maka bisa kita bandingkan bahwa pengalaman-pengalaman negara lain seperti Jepang dengan Nippon Steel-nya yang menjadi nomor satu di dunia dan Korea dengan Pohang nomor satu di dunia. Mengapa mereka bisa menjadi besar dan berkembang seperti itu?  Semua itu karena industrinya diproteksi oleh negara, dan mereka berpikiran bahwa industri strategis tersebut memiliki nilai yang strategis.  Meskipun dalam membiayai industri-industri tersebut mereka harus berhutang yang berasal dan rakyat dan melakukan pinjaman kepada pemerintah.

Berkaitan dengan contoh-contoh diatas,  kita membandingkan dengan Krakatau Steel yang merupakan salah satu BUMN subur dan sangat strategis untuk terus dikembangkan dan dijaga sebagai aset negara yang bisa menjadikan Indonesia berkembang.

Krakatau Steel bisa berkembang, jika saham-sahamnya dijual kepada rakyat dan jangan dijual kepada investor asing yang harganya cuma Rp. 850,- per lembar saham.  Apalagi penjualan saham tersebut tidak adanya keterbukaan kepada publik.  Mengapa pemerintah menutup-nutupi penjualan saham Krakatau Steel tersebut?  Sedangkan Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam) sendiri yang lebih berhak mengawasinya, tidak berani melakukannya.  Padahal Undang-Undang sudah mengatur bahwa Bapepam memiliki hak untuk mengawasinya.  Jadi apa kerja Bapepam sesungguhnya?  Ini yang patut dicurigai dan dipertanyakan kedepannya.

Pemerintah sekarang tidak berhal untuk menjual Krakatau Steel, karena industri tersebut telah dibangun dengan susah payah oleh Presiden Soekarno dan Soeharto.  Jika pemerintah memiliki alasan untuk membiayai pengembangan dalam penambahan kapasitas produksi menjadi 2,5 juta ton per tahun, maka jalan terbaik adalah dengan mencari pinjaman atau menerbitkan obligasi.  Jadi Kementerian BUMN jangan hanya main jual terhadap aset-aset negara yang nilainya strategis.

Atau jangan-jangan penjualan ini dipersiapkan untuk Pemilihan Umum 2014? Agar partai tertentu bisa kembali berkuasa dan melanggengkan kekuasaannya? Apalagi sudah banyak kejanggalan terjadi dengan masuknya Mustafa Abubakar sebagai Menteri BUMN yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Bisa ditebak ada apa dan apa yang akan terjadi?

Jika IPO Krakatau Steel tetap di-listing di Indonesia Stock Exchange (IDX), maka ini bisa menjadi bencana besar kedua setelah Kasus Bank Century yang sampai sekarang kasusnya masih menggantung!!!

Hitungannya : Harga saham yang harga normal seharusnya Rp. 1.100,- per lembar saham dijual dengan harga hanya Rp. 850,-  dengan jumlah lembar saham mencapai 3.155.000.000 lembar. Silahkan dihitung sendiri …!!!!

Information

This entry was posted on 5 November 2010 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: